Selasa, 07 Maret 2017

Kupas Tuntas Mitos Seputar Kehamilan dengan Teknologi

Teknologi memberikan kemudahan dalam kemudahan berkomunikasi. Namun, pada sisi lain kemudahan yang ditawarkan kerap kali disalahgunakan. Penyebaran informasi tidak sepenuhnya benar ataupun berita bohong saat ini semakin merajalela.

Tak luput kabar tentang kesehatan, termasuk tentang kehamilan. Banyak mitos yang berkembang di masyarakat, baik secara lisan atau tulisan berupa broadcast message di aplikasi chatting.

Diskusi Obsat yang diselenggarakan kerjasama Beritagar dan Rumah Sakit Mayapada pada 23 Februari 2017 di Beranda Kitchen, Jakarta Selatan. Diskusi yang mengangkat topik "Mitos dan Fakta Seputar Kehamilan" dengan narasumber: Dr.Yuslam Edi Fidianto, SpOG dari (Mayapada Hospital), Kinaryosih (Artis), Rahne Putri (Blogger)  dan Kartika Susanti (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia/Mafindo) dan dipandu oleh moderator Kristin Amelina (Beritagar).


Diawali dengan pembahasan sederhana tentang makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Mulai dari air kelapa agar rambut bayi nantinya, diharapakan akan tumbuh subur. Menurut dr. Yuslam konsumsi air kepala bagi ibu hamil boleh, namun tidak akan berdampak pada pertumbuhan rambut.

Selanjutnya mitos bahwa penggunaan minyak kepala agar mempermudah proses melahirkan. Menurut dr.Yuslam penggunaan minyak kepala diijinkan, namun tidak banyak membantu proses melahirkan. Dr. Yuslam juga menyarankan konsumsi daginf kambing, dibandingkan daging sapi bagi ibu hamil karena kanduangan gizi yang dinilai lebih baik.


Kirnaryosih dan Rahne Putri turut bertanya pada dr.Yuslam seputar pengalamannya tentang kehamilan. Orang tua Rahne Putri tak mengijinkan makan sate, dr.Yuslam sependapat karena bisa menimbulkan kanker. Daging yang bersentuhan dengan api langsung bersifat karsinogen, lebih disarankan makan steak yang dipanggang well done. Kinaryosih berbagi kisah tentang konsumsi air kelapa, pada kehamilan anak pertama dan kedua punya pengalaman berbeda.

Perwakilan Mafindo, Kartika Susanti ikut angkat bicara tentang beredarnya kabar bohong. Teknologi mempermudah penyebaran berita bohong, tapi dengan teknologi juga bisa memilah mana berita berita yang benar ataupun bohong.

Gunakan prinsip 6P:
1. Perhatikan Hati
2. Potong Rantai Informasi Hoax, jangan ikut menyebarkan
3. Periksa Sumber Informasi yang Terpercaya dan Bisa Diakses
4.Periksa Redaksional Informasi yang Terpercaya dan Bisa Diakses
5. Pergunakan Akal Sehat Saat Menerima Informasi
6. Perhatikan infomasi dari orang kita percayai, belum tentu benar.

Grup Whatsapp menjadi "saluran" menyebarkan kabar hoax, apalagi grup Whatsapp keluarga. Rahne Putri juga berbagi pengalaman untuk memberikan edukasi kepada lingkungan terdekat tentang hoax. Lain halnya dengan Kinaryosih memiliki pengalaman tentang berita hoax, suatu kali pernah ikut menyebarkan suatu kabar.


Kabar hoax terkait promo travelling, karena Kinaryosih senang travelling sehingga ikut menyebarkan kabar dan ternyata kabar itu kabar hoax. Dr. Yuslam punya pengalaman tentang hoax kesehatan di Grup Whatsapp sekolah, tak sengaja ikut menyebarkan kabar dan ternyata kabar tersebut tidak benar.

Dalam penyebaran berita hoax, Mafindo tidak mengawal proses hukun namun berbasis komunitas. Lewat grup tertutup di Facebook, bisa saling mengonfirmasikan kabar hoax yang beredar. Pentingnya memberikan edukasi dan literasi membedakan mana berita hoax dan mana yang bukan.

Terutama di Facebook menjadi tempat banyak beredarnya kabar hoax.
Ibu hamil boleh meminum susu, namun tidak perlu susu yang khusus. Boleh juga mengonsumsi kopi 350mg per hari asalkan tidak menderita hipertensi. Kenaikan berat badan pada ibu hamil idealnya 9-14 kg.
Pastikan sumber-sunber terpecaya untuk validasi informasi yang kredibel. Jika menemukan informasi hoax, bisa dilaporkan ke Positif Kominfo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar