Rabu, 14 Juni 2017

Ingin Terhindar dari Penyakit Tidak Menular? Ini Hal yang Harus Kamu Ketahui

Menderita suatu penyakit pastinya hal tidak diingikan oleh siapapun, termasuk saya tentunya. Saat sekolah saya teringat ada jenis penyakit menular dan tidak menular, mau sakit apapun pastinya tidak enak. Kabar baiknya pada penyakit tidak menular, resiko terkena penyakit tidak menular ternyata bisa diperkecil sehingga bisa terhindar dari penyakit tidak menular. Mulai dari penyakit stroke, obesitas, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, san gagal ginjal kronis ternyata penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Padahal penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh gaya hidup kita yang kurang sehat. Salah satunya adalah malas gerak atau mager, bawaannya ingin duduk dan tiduran saja. Apalagi saat ini teknologi mempermudah kehidupan manusia, mulai dari ojek online yang mempermudah kita membeli aneka barang. Mau pesan makanan bisa, mau belanja bisa, dan bepergian bisa semuanya dipermudah dengan transportasi online.


Saat ini penderita penyakit tidak menular juga dialami oleh anak-anak dan orang dewasa pada usia produktif, tidak hanya lagi pada usia manula. Pada Selasa, 13 Juni 2016 di RPTRA Taman Kenanga dalam rangka Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2017 diadakan acara yang memaparkan peranan keluarga dalam mencegah penyakit tidak menular dan aktif beraktivitas pada anak-anak.


Narasumber pertama adalah Bu dr.Lily Sriwahyuni, MM Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang memaparkan beberapa data. Pada tahun 2030 pemerintah punya Sustanablity Development Goal, penurunan sepertiga kematian dini karena penyakit tidak menular. Untuk iti ada gerakan GERMAS, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat sesuai Inpres No 1 tahun 2017 tentanf Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Semua lembaga pemerintahan, tak hanya Kementerian Kesehatan memiliki peran menyukseskan GERMAS.



Penyakit tidak menular bisa dicegah dengan aktif beraktivitas, tapi seperti apa aktivitas yang dimaksudkan? Narasumber kedua akan menjelasakan bagaimana kita sebaiknya aktif beraktivitas fisik. Dr. Michael Triangto, Sp.KO adalah dokter spesialis keolahragaan, menyatakan penyebab kita malas gerak. Karena tuntunan pendidikan kita duduk lama, teknologi juga mempermudah hidup kita, dan minimnya kita beraktivitas. Dampak dari kita yang malas gerak: hipertensi, obesitas, stroke, diabetes miletus, jantung koroner, dan gagal ginjal. Salah satu tanda tingginya kadar insulin, adanya garis-garis hitan di bagian leher.

Saatnya kita mulai dengan gaya hidup sehat dari keluarga, orang tua yang memiliki kebiasaan hidup sehat. Orang tua memahami waktu makan anak, tidak memaksakan anak untuk menghabiskan makanan dan orang tua bisa berolahraga ringan bersama dengan anak-anak. Tidak alasan untuk tak berolahraga, mulai dari aktivitas yang sederhana saja. Kalau ingin mendapatkan sehat jangan berolahraga berlebihan, bisa berakibat fatal saat berolahraga karena diforsir.

Beraktivitas fisik bisa mulai dilakukan di tempat kerja dengan menggerakan kepala dan tangan. Dengan prinsip baik, benar, terukur, dan teratur jadi ada aturannya. Karena tak semua aktivitas fisik yang menghasilkan keringat adalah kegiatan olahraga. Buat olahraga menjadi mudah, mulai dari jalan cepat, bersepeda, latihan otot ringan, dan bisa dilakukan kapan saja.



Narasumber ketiga, mas Yomi Wardhana co-founder Indo Runners berbagi pengalamnnya sebagai pelari yang menyenangi half marathon. Mas Yomi dahulu pernah mengalami penyakit jantung akibat berlebihan dalam berolahraga, mas Yomi memberikan saran bagaimana cara berolahraga yang benar. Indorunners sendiri mulai berdiri sejak 12 Desember 2008 untuk mempopulerkan olahraga lari yang menyenangkan.

Ada salah persepsi kita tentang olahraga lari, persepsi kita sejak kecil di sekolah lari adalah hukuman bukan hal yang menyenangkan. Seorang pelari dianggap juga kesepian, padahal bisa berlari secara kelompok hal yang menyenangkan, menghibur, bisa dilakukan kapanpun, dan memberikan inspirasi hidup sehat bagi orang lain.

Teknologi juga bisa membantu kita berolahraga lari, mulai aplikasi sederhana bernama Endomondo ditunjang berbagai gadget yang memudahkan. Dengan prinsip olahraga lari adalah CSR: Caring, Sharing, dan Running. Bisa melakukan donasi dengan mencapai target jarak lari tertentu. Selain itu olahraga lari bukan trend, tapi sudah menjadi gaya hidup dan diliput berbagai media dengan tetap tampil keren saat berlari. Acarapun diakhiri dengan bersama-sama senam CERDIK.

15 komentar:

  1. HUwaaaa, aku pun kepengen banget rutin lari. Tapi suka kepentok sama waktu. Moga pas anak2 udah agak mandiir nanti bisa olahraga lari rutin minimal keliling komplek. :D

    BalasHapus
  2. (((malas gerak))))

    Duh, entah sudah berapa puluh kali aku niat ingin rutin olahraga paling minimal itu lari rutin seminggu sekali, tapi apa lah daya aku selalu kalah sama rasa malas :(

    Ternyata penyakit tidak menular itu bisa timbul karena emang kebiasaan buruk dari yang males gerak itu yaaa, aduuh yaampuun :(


    Tapi sehabis lebaran nanti, aku kudu kencengin tekad niat dan praktik nyata untuk rutin berolahraga dan memulai hidup yang (lebih) sehat lagi. Semangat! (^o^)9

    BalasHapus
  3. Yang namanya penyakit walaupun sudah rajin olahraga tetap bisa kena ke siapa saja ya. Tapi kita tetap harus berusaha melakukan upaya preventif jangan pasrah gitu aja :)

    BalasHapus
  4. Iya nih...banyak kemudahan jaman sekarang, bikin malas keluar rumah.
    Bahkan untuk belanja saja, aku lebih memilih ke warung depan rumah daripada ke pasar.
    ak seperti dulu saat baru-baru menikah...rasanya senang jalan ke mana-mana.

    Maka dari itu, aku rutinkan zumba seminggu 2 kali. Ditambah olah raga sederhana, seperti berlari ngejar anak biar gak erlambat sekolah.
    Hhahha...

    BalasHapus
  5. Saya masih mencoba untuk lari mas.. masih senang sepedaan daripada lari..tp emang kalau mau lebih sehat ya rutin lari min 1000 langkah lah ya hehe..

    BalasHapus
  6. Olahraga ringan dan benar ternyata cukup membantu kesehatan drpd olahraga keras. Ah makanya kita kudu pemanasan jg biar tidak tegang

    BalasHapus
  7. Lari betulan lari saya msh blm bs. Kalau lari kecil saya oke

    Tapi berusaha olahraga biar sehat

    BalasHapus
  8. Teknologi memang seperti dua mata pisau ya...bisa bermanfaat tapi juga bisa merugikan. Salah satunya kita jadi malas gerak, semua sudah tersedia dengan mudah. Akibatnya penyakit pada datang, deh...

    BalasHapus
  9. Lari itu kalo rame rame enak tapi kalo sendirian kurang menarik banget koh
    Tapi saya baru tau ternyata ada sebuah aplikasi yang mendukung kegiatan tersebut

    BalasHapus
  10. aku pengen bangettt. Tapi suka hosh hosh banget hahhaa. Meski gitu mencoba bertahap supaya gak ngerasa berat banget hehe

    BalasHapus
  11. Aku tipe yang males banget olah raga nih huuft
    Tapi . . .

    Tiap hari lari-larian naik turun tangga di stasiun untuk ngejar kereta itu termasuk olah raga enggak kok??
    Kan bikin keringetan dan ngosh-ngosan juga heheh

    BalasHapus
  12. Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu. ..

    Almarhum bapakku meninggal karena serangan jantung, awalmulanya hipertensi

    Almarhummah ibuku jg meninggal karena serangan jantung, awalmulanya gagal ginjal

    Keduanya penyakit tidak menular, diakibatkan krn pola hidup

    Krn itu kami skrg lebih aware sih. Makan inssyaAllah sudah hati hati. . cm memang untuk olahraga blm maksimal

    BalasHapus
  13. Olahraga tuh obat segala macam penyakit banget. Cuma sayangnya...males. Aku lagi berusaha buat rajin lagi kaya dulu..

    BalasHapus
  14. semua itu bisa terjadi kalo kita males olahraga ya?
    paling gak jalan santai, seminggu sekali atau senam gitu ya
    mau rutinin aja susaahh bgt

    BalasHapus
  15. Iya sih...... Karena teknologi membuat kita malas gerak, jadinya banyak penyakit mendekat.....

    Go..... Go gerak.....

    BalasHapus