Sabtu, 08 Desember 2018

Memahami Bagaimana Fintech Memudahkan Kehidupan Kita

Teknologi sudah banyak manfaat bagi kehidupan manusia, termasuk dalam mempermudah berbagai aktivitas. Namun, kemudahan yang ditawarkan perlu disikapi dan digunakan secara bijak. Beberapa waktu terakhir ada berita yang cukup heboh tentang pinjaman online melalui aplikasi, tetapi sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?

Financial technology atau fintech sejak beberapa tahun terakhir berkembang cepat, masyarakat mulai mengenal fintech dengan layanan pembayaran. Saat ini kita sudah merasakan kemudahan bertransaksi, bahkan untuk membayar belanjaan cukup lakukan scan QR Code dengan aplikasi.

Menjelang pertengahan tahun 2015 mulailah diperkenalkan suatu layanan pinjaman online oleh suatu perusahaan, kebetulan saya diundang pada acara launching layanan tersebut. Awalnya saya cukup kaget dengan konsep pinjaman secara online, terlebih jangka waktu kurang dari satu bulan.

Sekalipun bunga yang ditawarkan cukup besar, tetapi memang sebanding dengan risiko yang ditanggung oleh perusahaan yang memberi pinjaman. Masyarakat pun banyak yang sudah melakukan pinjaman melalui layanan pinjaman online tersebut.

Kembali Mempelajari Fintech

Setelah cukup lama saya lebih memperhatikan fintech pembayaran, tanpa saya sadari fintech pinjaman online sudah berkembang semakin cepat. Tidak sekedar layanan pinjaman cepat (payday loan), tetapi juga hadirnya layanan pinjaman berbasis P2P Lending di Indonesia baik dalam platform website dan aplikasi. Saya jadi ingin kembali memperdalam pengetahuan tentang fintech, khususnya fintech P2P Lending yang dikenal masyarakat sebagai pinjaman online.

Kebetulan tenyata ada acara yang menarik #BloggerXFintechDay yang diselenggarakan oleh Ruphiah, bekerjasama dengan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pada Sabtu, 24 November 2018 di BSD, Tangerang Selatan.

Acara #BloggerXFintechDay mengangkat tema "Financial Technology as Solution not the Problem" yang menarik bagi saya. Jika ada anggapan hadirnya fintech (dalam hal ini pinjaman online) adalah masalah, melalui acara ini para pelaku fintech akan menjelaskan apa sebenarnya solusi yang ditawarkan kepada masyarakat.

Memahami Cara Kerja Fintech

Turut hadir juga pak Sunu Widyatmoko selaku Wakil Ketua AFPI & CEO Dompet Kilat yang menyampaikan tantangan terbesar dari Fintech adalah edukasi. Adanya anggapan negatif masyarakat terhadap pembiayaan online, padahal ada banyak hal yang positif.


Fintech menawarkan kemudahan untuk mendapatkan pinjaman, jika dibandingkan melalui perusahaan jasa keuangan. Namun, diperlukan akses jejak digital melalui smartphone yang mengajukan pinjaman, seperti nomor kontak darurat yang tersimpan di daftar kontak. Faktor kepercayaan menjadi hal yang diperhatikan oleh pelaku usaha fintech, cara memastikannya dengan melihat jejak digital dari smartphone.

Peluang dan Perkembangan Fintech di Indonesia

Fintech di Indonesia semakin berkembang di Indonesia, Ketua Harian AFTECH pak Kuseryansyah memaparkan potensi perkembangan fintech di Indonesia dikarenakan layanan yang inovatif. Bahkan tidak hanya sebagai peminjam, masyarakat bisa menjadi investor (pemberi dana pinjaman) mulai dari Rp50.000 saja.


Melalui fintech masyarakat dipertemukan antara pemilik dana dan orang yang membutuhkan dana. Masih ada sekitar 60 juta pelaku UMKM yang belum tersentuh pembiayaan konvesnional, tetapi membutuhkan dana pengembangan bisnis, itulah yang menjadi pasar potensial bagi fintech.

Masih ada gap kebutuhan pembiayaan sebesar 1.000 Triliun di Indonesia, gap inu bisa diatas dengan fintech. Sehingga sebenarnya fintech tidak menganggu bisnis perbankan, karena adanya kebutuhan pembiayaan yang tidak bisa dipenuhi masyarakat.

Tantangan fintech ke depan masih perlunya edukasi dan sosialisasi, sehingga tidak timbul pendapat negatif pada fintech. Di Indonesia layanan fintech P2P Lending ada tiga jenis: Pembiayaan produktif, pembiayaan syariah, dan pembiyaan multiguna (Consumer Loan). Sejak Januari hingga September 2018 pertumbuhan fintech mencapai 440% dengan total penyaluran dana sebesar 11,8 Triliun.

Teliti dalam Memilih Perusahaan Fintech
Namun, masyarakat perlu teliti pastikan perusahaan fintech Peer to Peer Lending yang terdaftar di OJK, karena sudah memenuhi standar bisnis untuk jangka panjang. Saat ini sudah ada 73 fintech P2P Lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuanhan (OJK), hadir sebagai solusi pinjaman masyarakat untuk keperluan produktif dengan jangka waktu singkat harian sampai bulanan.

Fintech hadir berkat adanya teknologi, sebanyak 60 juta pemilik smartphone belum mendapatkan akses pinjaman ke bank. Sehingga fintech membantu mempertemukan antara peminjam dan pemberi pinjaman, peminjam pun diseleksi menggunakan jejak digital untuk menentukan layak tidaknya menerima pinjaman, apakah peminjam mampu untuj melakukan pembayaran.

Di Indonesia sudah ada aturan dan code of conduct tentang fintech, sehingga bukanlah "Predator Loan" karena ada besaran jumlah maksimal 100% dari tagihan. Jika ada keluhan dari masyarakat terhadap layanan fintech, bisa disampaikan melalui OJK.

Berbagai Layanann Fintech dengan Target Pasar yang Berbeda

Bu Asri Anjarsari dari Cash Wagon menjelaskan layanan P2P Lending  memang menyasar segmen masyarakat yang unbankable. Namun, berkat bantuan teknologi masyakat bisa mendapatkan pinjaman yang lebih cepat.  Bahkan masyarakat bisa menjadi "investor" sebagai pemberi pinjaman dengan return yang menjanjikan.


Pada umumnya saat pengajuan pinjaman pada perusahaan jasa keuangan diperlukan analisa oleh analis kredit, melalui jejak digital di smartphone peminjam perusahaan proses analisa bisa lebih cepat dilakukan. Bahkan peminjaman pada Cash Wagon pengguna tidak akan dikenakan denda, selama melakukan pembayaran tepat waktu.

Begitu pula dengan penjelasan dari pak Bimo Adhiprabowo dari RupiahPlus, menjelaskan melalui fintech,  proses kemudahan mendapatkan pinjaman bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Jika terjadi "gagal bayar" pada peminjam, sebenarnya bisa  didiskusikan kepada layanan yang memberikan pinjaman untuk mendapatkan restrukturisasi.


Ada pula fintech yang fokus pada pembiayaan segmen masyarakat UMKM seperti Teralite dan Kredit Pro. Bahkan ada fintech bernama Aktivaku yang memiliki layanan pembiayaan yang spesifik untuk: Project Financing, Take Over Kredit, Uang muka, Rumah, dan pembiayaan berbasis invoce dengan jangka waktu maksimal satu tahun.

Ada pula layanan dari Pinduit yang mengkhususkan pada segmen pinjaman untuk keperluan pendidikan, dikarenakan di Indonesia belum banyak lembaga keuangan yang memiliki produk untuk keperluan pendidikan. Tidak hanya untuk jenjang pendidikan formal, biaya pendidikan non formal, dan short course bisa disedaikan dengan pembiayaan dari Pinduit.



Kesimpulan: Fintech dengan berbagai jenis layanan untuk target yang spesifik dan inovatif menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Kekurangan belum adanya akses pada data kependudukan dan sistem informasi debitur, tidak menghalangi pelaky fintech untuh memudahkan dmasyarakat dalam mendapatkan akses pinjaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar