Kamis, 13 Desember 2018

Menyadari Pentingnya Gaya Hidup Sehat, Demi Hidup yang Lebih Baik

Gaya hidup sehat ternyata murah, salag satu pendapat masyarakat Indonesia yang menjadi responden survei AIA Healthy Living Index 2018. Pandangan masyarakat Indonesia sudah mulai berubah terhadap makanan sehat, sebesar 73% menyatakan makan sehat itu murah, dan 78% makanan sehat mudah didapatkan. Hal itu merupakan wujud dari tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap kesehatan meningkat.

AIA Healthy Living Day
AIA Healthy Living Day di Jakarta

PT AIA Financial menyampaikan hasil riset AIA Healthy Living Index 2018 pada acara AIA Healthy Living Day. AIA Healthy Living Index sudah dilakukan sejak 2011, merupakan edisi keempat yang diterbitkan pada AIA Healthy Living Index 2018. Di Indonesia survei diikuti 750 orang Indonesia dengan usia lebih dari 18 tahun.

Metodologi AIA Healthy Living Index 2018

Survey AIA Healthy Living Index 2018 dilakukan terhadap 11.000 responden, berusia 18 tahun ke atas dari 16 negara, termasuk 750 responden dari Indonesia. Ke-16 negara tersebut adalah Australia, Kamboja, China daratan, Hong Kong, India, Indonesia, Korea, Macau, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Metode survei dilakukan dalam tiga cara yaitu wawanca melalui online, tatap muka secara langsung dan melalui telepon.

Pada awal acara AIA Healthy Living Day peserta yang hadir diberikan sebuah pertanyaan yang menohok, "Dalam seminggu berapa kali rutin dalam berolahraga?". Tentu saja sebagian besar peserta yang hadir, rata-rata hanya menjawab sekitar 1-2 kali per minggu rutin berolahraga.

Tujuan Survei AIA Healthy Living Index 2018

Bu Kathryn Monika Parapak, Head of Brand and Communication, PT AIA Financial menyampaikan, AIA Healthy Living Index adalah survei yang dilakukan di Asia Pasifik, mengetahui pandangan masyarakat mengenai kesehatan dan harapan mereka untuk hidup yang lebih baik.

Hasil Survei AIA Healthy Living Index 2018
Hasil Survei AIA Healthy Living Index 2018

Melalui survei tersebut diharapkan #HealthyLivingDay #AIAIndonesia dapat memahami tren kesehatan saat ini sehingga, dapat membantu masyarakat hidup lebih sehat, lebih lama dan lebih baik. Survei ini juga menjadi dasar pendekatan AIA dalam pengembangan produk dan layanan, serta berbagai inisiatif untuk memotivasi masyarakat menjalankan pola hidup sehat.

Indonesia dalam AIA Healthy Living Index 2018

Berdasarkan hasil survei AIA Healthy Living Index 2018 sebanyak 96% orang Indonesia merasa puas dengan kesehatannya. Sebesar 30% masyarakat Indonesia memiliki keinginan untuk menurunkan berat badan, tetapi aktivitas hidup sehat yang dijalankan selama 4 minggu terakhir malahan menurun. Waktu tidur orang Indonesia semakin membaik, terjadi kenaikan waktu 1,2 jam pada tahun 2018.

Dalam penggunaan biaya kesehatan, masyarakat Indonesia 50% menyatakan membeli makanan sehat, 33% melakukan medical check-up, dan 5% menggunakannya untuk biaya olahraga. Ada lima alasan tertinggi penyebab orang Indonesia mengonsumsi makanan sehat: terlihat lebih menarik, memiliki lebih banyak energi, mengurangi risiko penyakit kritis, hidup lebih lama, dan mengurangi risiko penyakir umum.

Masyarakat Indonesia Kurang Suka Berolahraga

Namun, hal yang cukup mengejutkan masyarakat Indonesia kurang suka berolahraga, durasi olahraga masyarakat Indonesia sekitar 2,2 jam. Sebanyak 90% responden menyatakan olahraga memerlukan banyak waktu dan 10% menyatakan olahraga membutuhkan biaya yang cukup banyak.

Ada lima pendapat penyebab masyarakat Indonesia berolaharga: senang melakukannya, menurunkan berat badan, memiliki energi lebih besar, menguransi risiko terkena penyakit kritis, dan hidup lebih lama. Namun, ada juga lima alasan orang Indonesia berhenti berolahraga: membutuhkan banyak usaha, lebih memilih melakukan hal lain, tidak bisa dilakukan di rumah, membutuhkan waktu untuk keluar rumah  dan merasa tidak efektif.

Masyarakat Indonesia tidak banyak yang menggunakan Activity Tracker (aplikasi, smartwatch, sportwatch, dan smartband), hanya sebesar 3% dan merupakan terendah kedua di Asia Pasifik. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa harga Activity Tracker terlalu mahal.

Kecemasan Masyarakat Terhadap Penyakit Kritis

Sebanyak 87% masyarakat menyatakan sangat khawatir dengan biaya medis untuk pengobatan penyakit kritis, tertinggi kedua dibandingkan negara lain di Asia Pasifik. Ada tiga jenis penyakit, yaitu kanker, jantung, dan diabetes yang dianggap perkiraan biaya pengobatan penyakit akan menyebabkan dampak serius pada keuangan.

Dalam pembiayaan penyakit (kanker, sakit jantung, dan diabetes) masyatakat Indonesia memilih: 76% mengharapkan bantuan biaya pengobatan dari pemerintah, 31% membayar dengan dana tabungan sendiri, dan 28% menggunakan asuransi yang direncanakan.

Trend Konsultasi Kesehatan Berbasis Teknologi

Kesadaran untuk melakukan medical check (2018) meningkat menjadi 49% dibandingkan sebelumnya 34 pada tahun 2016. Alasan yang dikemukakan masyarakat tidak melakukan medical check up, yaitu: 52% merasa sehat, 49% alasan biaya, 26% takut dengan hasil medical check up, 23% membutuhkan waktu, dan 10% yakin tidak memiliki risiko penyakit serius.

Sebagian besar masyarakat Indonesia memilih untuk melakukan konsultasi dengan cara 94% konsultasi tatap muka dengan dokter dan 6% konsultasi melalui telepon/internet. Namun 56% dari masyarakat yang konsultasi tatap muka dengan dokter, memilih menggunakan fasilitas kesehatan gratis walaupun harus menunggu lama.


Melalui hasil survei AIA Healthy Living Index 2018 diharapkan masyakat bisa lebih sadar terhadap kesehatan. Sesuai dengan tujuan #HealthyLivingDay #AIAIndonesial agar masyarakat bisa lebih sehat, lebih lama, dan lebih baik. Kenal lebih dekat dengan AIA Indonesia melalui media sosial di Instagram @aiaindonesia dan akun Facebook https://www.facebook.com/AIAIndonesia

Gaya Hidup Sehat Hasilnya Tidak Instan

dr. Raissa E. Djuanda M.Gizi, Sp.GK, menyampaikan peningkatan trendnobesitas yang berkembang di masyarakat, tingkat obesitas meningkat mencapat 40,4% masyarakat Indonesia: 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki di Indonesia mengalami kelebihan berat badan. Hal itu berpotensi memicu adanya penyakit-penyakit kronis, berawal dari berat badan yang berlebih.


Hasil dari gaya hidup sehat hasilnya tidak instan, minimal perlu waktu 3 bulan baru terlihat perubahannya dan pola hidup sehat harus dilakukan seumur hidup Konsumsi makann dengan gizi seimbang, dalam satu piring terdapat 1/2 sayur dan buah, 1/4 karbohidrat, dan sisanya lauk. Kurangi GGM (Gula Garam dan Lemak) yang akan menyebabkan penyakit kronis tersebut.

Olahraga Bersama Lebih Menyenangkan

Laila Munaf, instruktur zumba dan owner Sana Studio menanggapi, hasil survey dari#HealthyLivingDay  #AIAIndonesia hanya 5% orang yang menyisihkan dana untuk olahraga, harapannya masyarakat banyak berolahraga di tempat, selain di gym atau studi, seperti: berlari dan berenang.


Berolahraga beramai ramai lebih menyenangkan karena mendapatkan energi positif dan dapat motivasi. Sehingga terpacu karena melihat instrukturnya terlihat bugar dan fit. Trend masyarakat mulai sadar pentingnya berolahraga ditunukan dengan semakin banyaknya gym dan studio.


Tidak hanya sekedar mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya hidup sehat, pada AIA Healthy Living Day rekan-rekan blogger dan jurnalis juga diajak untuk mengikuti sesi Zumba. Saya turut serta mengikuti zumba, ternyata memang menyenangkan berolahraga secara beramai-ramai bersama.

Sabtu, 08 Desember 2018

Memahami Bagaimana Fintech Memudahkan Kehidupan Kita

Teknologi sudah banyak manfaat bagi kehidupan manusia, termasuk dalam mempermudah berbagai aktivitas. Namun, kemudahan yang ditawarkan perlu disikapi dan digunakan secara bijak. Beberapa waktu terakhir ada berita yang cukup heboh tentang pinjaman online melalui aplikasi, tetapi sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?

Financial technology atau fintech sejak beberapa tahun terakhir berkembang cepat, masyarakat mulai mengenal fintech dengan layanan pembayaran. Saat ini kita sudah merasakan kemudahan bertransaksi, bahkan untuk membayar belanjaan cukup lakukan scan QR Code dengan aplikasi.

Menjelang pertengahan tahun 2015 mulailah diperkenalkan suatu layanan pinjaman online oleh suatu perusahaan, kebetulan saya diundang pada acara launching layanan tersebut. Awalnya saya cukup kaget dengan konsep pinjaman secara online, terlebih jangka waktu kurang dari satu bulan.

Sekalipun bunga yang ditawarkan cukup besar, tetapi memang sebanding dengan risiko yang ditanggung oleh perusahaan yang memberi pinjaman. Masyarakat pun banyak yang sudah melakukan pinjaman melalui layanan pinjaman online tersebut.

Kembali Mempelajari Fintech

Setelah cukup lama saya lebih memperhatikan fintech pembayaran, tanpa saya sadari fintech pinjaman online sudah berkembang semakin cepat. Tidak sekedar layanan pinjaman cepat (payday loan), tetapi juga hadirnya layanan pinjaman berbasis P2P Lending di Indonesia baik dalam platform website dan aplikasi. Saya jadi ingin kembali memperdalam pengetahuan tentang fintech, khususnya fintech P2P Lending yang dikenal masyarakat sebagai pinjaman online.

Kebetulan tenyata ada acara yang menarik #BloggerXFintechDay yang diselenggarakan oleh Ruphiah, bekerjasama dengan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pada Sabtu, 24 November 2018 di BSD, Tangerang Selatan.

Acara #BloggerXFintechDay mengangkat tema "Financial Technology as Solution not the Problem" yang menarik bagi saya. Jika ada anggapan hadirnya fintech (dalam hal ini pinjaman online) adalah masalah, melalui acara ini para pelaku fintech akan menjelaskan apa sebenarnya solusi yang ditawarkan kepada masyarakat.

Memahami Cara Kerja Fintech

Turut hadir juga pak Sunu Widyatmoko selaku Wakil Ketua AFPI & CEO Dompet Kilat yang menyampaikan tantangan terbesar dari Fintech adalah edukasi. Adanya anggapan negatif masyarakat terhadap pembiayaan online, padahal ada banyak hal yang positif.


Fintech menawarkan kemudahan untuk mendapatkan pinjaman, jika dibandingkan melalui perusahaan jasa keuangan. Namun, diperlukan akses jejak digital melalui smartphone yang mengajukan pinjaman, seperti nomor kontak darurat yang tersimpan di daftar kontak. Faktor kepercayaan menjadi hal yang diperhatikan oleh pelaku usaha fintech, cara memastikannya dengan melihat jejak digital dari smartphone.

Peluang dan Perkembangan Fintech di Indonesia

Fintech di Indonesia semakin berkembang di Indonesia, Ketua Harian AFTECH pak Kuseryansyah memaparkan potensi perkembangan fintech di Indonesia dikarenakan layanan yang inovatif. Bahkan tidak hanya sebagai peminjam, masyarakat bisa menjadi investor (pemberi dana pinjaman) mulai dari Rp50.000 saja.


Melalui fintech masyarakat dipertemukan antara pemilik dana dan orang yang membutuhkan dana. Masih ada sekitar 60 juta pelaku UMKM yang belum tersentuh pembiayaan konvesnional, tetapi membutuhkan dana pengembangan bisnis, itulah yang menjadi pasar potensial bagi fintech.

Masih ada gap kebutuhan pembiayaan sebesar 1.000 Triliun di Indonesia, gap inu bisa diatas dengan fintech. Sehingga sebenarnya fintech tidak menganggu bisnis perbankan, karena adanya kebutuhan pembiayaan yang tidak bisa dipenuhi masyarakat.

Tantangan fintech ke depan masih perlunya edukasi dan sosialisasi, sehingga tidak timbul pendapat negatif pada fintech. Di Indonesia layanan fintech P2P Lending ada tiga jenis: Pembiayaan produktif, pembiayaan syariah, dan pembiyaan multiguna (Consumer Loan). Sejak Januari hingga September 2018 pertumbuhan fintech mencapai 440% dengan total penyaluran dana sebesar 11,8 Triliun.

Teliti dalam Memilih Perusahaan Fintech
Namun, masyarakat perlu teliti pastikan perusahaan fintech Peer to Peer Lending yang terdaftar di OJK, karena sudah memenuhi standar bisnis untuk jangka panjang. Saat ini sudah ada 73 fintech P2P Lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuanhan (OJK), hadir sebagai solusi pinjaman masyarakat untuk keperluan produktif dengan jangka waktu singkat harian sampai bulanan.

Fintech hadir berkat adanya teknologi, sebanyak 60 juta pemilik smartphone belum mendapatkan akses pinjaman ke bank. Sehingga fintech membantu mempertemukan antara peminjam dan pemberi pinjaman, peminjam pun diseleksi menggunakan jejak digital untuk menentukan layak tidaknya menerima pinjaman, apakah peminjam mampu untuj melakukan pembayaran.

Di Indonesia sudah ada aturan dan code of conduct tentang fintech, sehingga bukanlah "Predator Loan" karena ada besaran jumlah maksimal 100% dari tagihan. Jika ada keluhan dari masyarakat terhadap layanan fintech, bisa disampaikan melalui OJK.

Berbagai Layanann Fintech dengan Target Pasar yang Berbeda

Bu Asri Anjarsari dari Cash Wagon menjelaskan layanan P2P Lending  memang menyasar segmen masyarakat yang unbankable. Namun, berkat bantuan teknologi masyakat bisa mendapatkan pinjaman yang lebih cepat.  Bahkan masyarakat bisa menjadi "investor" sebagai pemberi pinjaman dengan return yang menjanjikan.


Pada umumnya saat pengajuan pinjaman pada perusahaan jasa keuangan diperlukan analisa oleh analis kredit, melalui jejak digital di smartphone peminjam perusahaan proses analisa bisa lebih cepat dilakukan. Bahkan peminjaman pada Cash Wagon pengguna tidak akan dikenakan denda, selama melakukan pembayaran tepat waktu.

Begitu pula dengan penjelasan dari pak Bimo Adhiprabowo dari RupiahPlus, menjelaskan melalui fintech,  proses kemudahan mendapatkan pinjaman bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Jika terjadi "gagal bayar" pada peminjam, sebenarnya bisa  didiskusikan kepada layanan yang memberikan pinjaman untuk mendapatkan restrukturisasi.


Ada pula fintech yang fokus pada pembiayaan segmen masyarakat UMKM seperti Teralite dan Kredit Pro. Bahkan ada fintech bernama Aktivaku yang memiliki layanan pembiayaan yang spesifik untuk: Project Financing, Take Over Kredit, Uang muka, Rumah, dan pembiayaan berbasis invoce dengan jangka waktu maksimal satu tahun.

Ada pula layanan dari Pinduit yang mengkhususkan pada segmen pinjaman untuk keperluan pendidikan, dikarenakan di Indonesia belum banyak lembaga keuangan yang memiliki produk untuk keperluan pendidikan. Tidak hanya untuk jenjang pendidikan formal, biaya pendidikan non formal, dan short course bisa disedaikan dengan pembiayaan dari Pinduit.



Kesimpulan: Fintech dengan berbagai jenis layanan untuk target yang spesifik dan inovatif menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Kekurangan belum adanya akses pada data kependudukan dan sistem informasi debitur, tidak menghalangi pelaky fintech untuh memudahkan dmasyarakat dalam mendapatkan akses pinjaman.

Minggu, 02 Desember 2018

Memahami Pentingnya Berinvestasi bagi Generasi Milenial

Generasi milenial yang dikenal sebagai generasi yang kreatif dan memiliki keinginan untuk sukses di usia muda, juga generasi yang rentan dengan gaya hidup yang berlebihan. Mulai dari travelling, shopping, dan hangout yang seakan-akan sudah menjadi sebuah kebutuhan, tanpa menyadari pentingnya mempersiapkan masa depan. Berinvestasi merupakan salah satu cara, mempersiapkan masa depan yang lebih baik.


Menyadari pentingnya edukasi finansial
dan pentingnya berinvestasi, Sorak Gemilang Entertaiment (SGE) bekerjasama dengan Narada Aset Manajemen menghadirkan Tomorrow Today Fun(d) Festival. Cara edukasi finansial yang dikemas dengan musik dan seni. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 1 Desember 2018 di The Space Senayan City.

Mervi Sumali, Marketing Director Sorak Gemilang Entertaiment (SGE) menyampaikan sambutan dan apresiasi dukungan pada berbagai pihak yang mendukung inisiatif edukasi finasial yang dilakukan melalui Tomorrow Today Fun(d) Festival.


Pada Tomorrow Today Fun(d) Festival generasi milenail bisa belajar cara mengelola keuangan, berinvestasi, menikmati hiburan musik, dan menikmati keindahan karya seni intalasi yang tersedia. Narasumber yang akan hadir Financial Trainer & Founder QM Financial Ligwina Hananto, manager investasi dari Narada Aset Manajemen, pengusaha, dan social media influencer.

Mulai dari Kaesang Pangarep (owner Sang Pisang), Jovi Adiguhuna (Content Creator), Nicoline Patricia (fotografer), Kenny Santanan (travel blogger), dan Agatha Suci (musisi). Mereka akan membagikan pengalaman dan tips dalam mengelola keuangan, mengembangkan bisnis atau karir, memanfaatkan media sosial. Musisi sepetti Hivi, Tulus, dan Teza Sumenda yang akan memeriahkan acara Tomorrow Today Fun(d) Festival.

Ligwina Hananto, Financial Trainer dan Founder QM Financial menyampaikan bahwa dalam memberikan edukasi kepada generasi milenial memerlukan cara yang berbeda. Ajak generasi milenial untuk meraih impiannya di masa depan, dengan membuat "Goal Setting" dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.


Tentukan tujuan keuangan untuk meraih goal setting yang diinginkan, kemudian baru memilih poduk keuangan yang bisa membawa untuk sampai ke tujuan. Berinvestasi merupakan salah satu pilihan untuk mencapai tujuan finansial, pada Tomorrow Today Fun(d) Festival ada kesempatan untuk belajar tentang mengatur keuangan dan memilih investasi yang tepat.

Turut hadir juga Kania Annisa Anggiani, Founder & Creative Director Chic & Darling yang berbagi pengalamannya dalam mengembangkan bisnis sarung bantal. Semakin berkembangnya usaha yang dijalankan, tetapi bisnis tidaklah selalu untung. Sehingga sebagaian pendapatan dari bisnis perlu diinvestasikan, kemudian dijadikan modal tambahan untuk pengembangan usaha.


Dari sisi kehidupan pribadi, bu Kania juga menyadari pentingnya berinvestasi untuk mempersiapkan dana pendidikan anaknya. Bu Ligwina Hananto menambahkan, rencana dana pendidikan anak merupakan salah satu contoh tujuan keuangan yang ingin dicapai sebagai orang tua, jangka waktunya cukup panjang sehingga toleransi terhadap risiko berinvestasi cukup besar.

Oktavian Dondi, Direktur Utama Narada Aset Manajemen menyampaikan bahwa, "Investasi bukan hanya untuk orang kaya, melalui acara Tomorrow Today Fun(d) Festival siapapun bisa menjadi investor. Pembelian satu tiket senilai Rp150.000 maka akan dikembalikan, dalam bentuk investasi reksa dana senilai Rp 100.000.


Untuk pembelian tiket bisa dilakukan secara online melalui BookMyShow, aplikasi eventevent, dan bisa dibeli secara on the spot. Pada momen menjelang tahun baru, masyarakat masih bisa menikmati karya seni instalasi yang dipamerkan hingga 1 Januari 2019.